Jurnal Akuakultur Indonesia http://jmpi.journal.ipb.ac.id/index.php/jai <p>Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) is a scientific journal publishes empirical research and recent science development in aquaculture. JAI is published twice a year in January and July since 2002 by the Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA) in association with the Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Science, Bogor Agricultural University. JAI accepts manuscripts written in English and in Bahasa (Indonesian). JAI only processes submitted original script related to aquaculture and not being published by other publishers. JAI has been registered in some indexing tools like Directory of Open Access Journals (DOAJ), Indonesian BASE, Publication Index (IPI), Google Scholar, Portal Garuda, Mendeley, SINTA, and IPB repository.</p> <p>&nbsp;</p> <p>p-ISSN <a href="http://u.lipi.go.id/1180429182" target="_blank" rel="noopener">1412-5269</a>&nbsp; /&nbsp; e-ISSN <a href="http://u.lipi.go.id/1385091088" target="_blank" rel="noopener">2354-6700</a></p> en-US <p><span>Authors who publish with this journal agree to the following terms:</span></p><br /><ol type="a"><ol type="a"><li>Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by/3.0/" target="_new">Creative Commons Attribution License</a> that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.</li></ol></ol><br /><ol type="a"><ol type="a"><li>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</li></ol></ol><br /><ol type="a"><li>Authors are permitted and encouraged to post their <a title="Click to Continue &gt; by trivia games" href="/index.php/jai/about/submissions#onlineSubmissions">work online<img src="http://cdncache-a.akamaihd.net/items/it/img/arrow-10x10.png" alt="" /></a> (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See <a href="http://opcit.eprints.org/oacitation-biblio.html" target="_new">The Effect of Open Access</a>).</li></ol> akuakultur.indonesia@gmail.com (Prof. Dr. Muhammad Zairin Junior) akuakultur.indonesia@gmail.com (Fitratunisa) Wed, 03 Feb 2021 09:21:29 +0700 OJS http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Evaluation of karamunting Melastoma malabathricum L leaf extract on gonad development and growth performance of tilapia Oreochromis niloticus http://jmpi.journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/view/32282 <p>The objective of this study was to determine the optimum dose of melastoma <em>M</em><em>elastoma</em><em> malabathricum</em> leaf extract that can inhibit the gonad development of Nile tilapia and increase its growth rate. This study used a completely randomized design containing five extract dose treatments (0, 0.5, 1, 2, and 4 g/kg diet doses) and three replications. The undifferentiated Nile tilapia larvae (7 days post hatching) were randomly distributed (n=30) to fifteen aquaria (100×50×50 cm<sup>3</sup>) and maintained for 112 days using a common recirculation system. The results showed that all dose treatments were not significantly different (P&gt;0.05) in gonadosomatic index values of the D84 and D98 samplings. However, the 1 g/kg diet (D112) was significantly different (P&lt;0.05) in all dose treatments. The final histological results (D112) showed that the 1 g/kg diet obtained the highest inhibition level of the testis and ovary developments, which were still in stage II compared to 0.5 g/kg diet (stage III) and control (stage IV and V). The highest average weight, absolute growth rate, and specific growth rate were obtained in the 1 g/kg diet dose which was significantly different (P&lt;0.05) compared to the control. The percentage of males increased significantly (P&lt;0.05) following the increased dose treatment fed to the fish (4 g/kg diet) with 80.12±4.67%, but the survival rate significantly decreased (P&lt;0.05) compared to the control. The administration of 1 g/kg diet dose obtained the best dose and potential as an inhibiting agent for gonad development in Nile tilapia.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Keywords: <em>Melastoma malabathricum</em>, gonad inhibition, cytosterol, <em>Oreochromis niloticus</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis optimum ekstrak daun melastoma <em>M</em><em>elastoma</em><em> malabathricum</em> yang dapat menghambat perkembangan gonad ikan nila sehingga meningkatkan laju pertumbuhan somatik dan mengevaluasi efektivitasnya sebagai agen seks reversal alami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan (dosis 0; 0,5; 1,0; 2,0; dan 4,0 g/kg pakan) dan tiga ulangan. Larva ikan nila sebelum kelamin terdiferensiasi (7 hari pascatetas) secara acak (n=30) dimasukkan ke dalam 15 buah akuarium (100×50×50 cm<sup>3</sup>) dan dipelihara selama 112 hari pada sistem resirkulasi. Hasil menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata (P&gt;0,05) terhadap nilai GSI pada sampling D84 dan D98. Namun, perlakuan 1 g/kg pakan pada sampling D112 berbeda nyata (P&lt;0,05) dengan semua perlakuan. Hasil histologi terakhir (D112) menunjukkan bahwa perlakuan 1 g/kg pakan mengindikasikan penghambatan perkembangan testis dan ovari yang paling besar yang masing-masing berada pada TKG II, dibandingkan dengan perlakuan 0,5 g/kg pakan (TKG III), dan dibandingkan dengan kontrol (TKG IV dan TKG V). Pengamatan terhadap bobot rata-rata, laju pertumbuhan mutlak, dan laju pertumbuhan harian tertinggi diperoleh pada perlakuan 1 g/kg pakan yang berbeda nyata (P&lt;0,05) dibandingkan dengan kontrol. Persentase jantan meningkat secara signifikan (P&lt;0,05) seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak yang mencapai 80,12±4,67% pada perlakuan 4 g/kg pakan, namun tingkat kelangsungan hidup menurun secara signifikan (P&lt;0,05) dibandingkan dengan kontrol. Pada keseluruhan parameter, pemberian ekstrak 1 g/kg pakan merupakan dosis terbaik dan potensial sebagai agen penghambat perkembangan gonad pada ikan nila.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata kunci:<em>Melastoma malabathricum</em>, penghambatan gonad, sitosterol, <em>Oreochromis niloticus</em></p> Ermianus Samalei, Muhammad Zairin Jr., Odang Carman, Muhammad Agus Suprayudi Copyright (c) 2021 Jurnal Akuakultur Indonesia http://jmpi.journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/view/32282 Tue, 02 Feb 2021 11:24:41 +0700 The performance of gold-mouth turban Turbo chrysostomus larvae in different temperature and salinity media http://jmpi.journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/view/32595 <p>Suhu dan salinitas merupakan parameter kualitas air yang berperan penting terhadap proses fisiologis siput mata bulan (<em>T. chrysostomus</em>) sehingga berdampak terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pengaruh suhu dan salinitas terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva siput mata bulan (<em>T</em><em>.</em><em> chrysostomus</em>). Stadia pre-torsion veliger dicapai sekitar 11 jam 36 menit setelah fertilisasi atau sekitar 3 jam setelah trocophor. Stadia post-torsion veliger awal ditandai dengan cangkang yang telah terbentuk sempurna dan pada post-torsion veliger akhir, larva sudah mengembangkan operkulum, kaki, dan propodium. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan A1B3 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir tercepat yaitu masing-masing 19 jam 36 menit dan 22 jam 36 menit setelah pembuahan. Sedangkan perlakuan A1B1 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir terlama yaitu masing-masing 20 jam 30 menit dan 23 jam 25 menit setelah pembuahan. Suhu tidak berpengaruh nyata sedangkan salinitas berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan harian larva siput mata bulan. Laju pertumbuhan harian tertinggi pada suhu 27±0.5<sup>o</sup>C (A1) tercatat pada perlakuan B3 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2. Suhu dan salinitas memberikan pengaruh yang signifikan namun interaksi keduanya tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup larva siput mata bulan. Perlakuan A1B3 memberikan persentase tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan tidak menunjukan nilai yang berbeda nyata dengan perlakuan A1B2. Parameter kualitas air yang diperoleh masih mendukung performa larva siput mata bulan hingga mencapai stadia juvenil.</p> Aris Sando Hamzah, Kukuh Nirmala, Eddy Supriyono, Irzal Effendi Copyright (c) 2021 Jurnal Akuakultur Indonesia http://jmpi.journal.ipb.ac.id/index.php/jai/article/view/32595 Wed, 10 Feb 2021 09:02:42 +0700